fbpx

IAAS National Workshop

First Gathering Delegations of IAAS National Workshop
December 8, 2020
IAAS Summit 2020: Community Empowerment through Sustainable AgricultureText Here
December 18, 2020

IAAS National Workshop

Sociopreneurship on Agro-Product to Deal with New Normal in Rural Community

24 Oktober 2020. Total pangan di dunia yang diproduksi oleh petani skala kecil mencapai 70-80% (Ricciardi et.al 2018). Hal ini menjadikan sektor pertanian menjadi tumpuan lapangan pekerjaan bagi 29% penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun keatas (Sakernas 2019). Pada pengelolaan produk pertanian digunakan berbagai ragam strategi dari lingkup on-farm hingga off-farm. Dalam rangka menyusun peluang bagi pelaku usaha bisnis berbasis sosial yang disebut sociopreneur untuk membina masyarakat sebagai dari bentuk konkrit pencarian solusi  dari masalah yang tengah dihadapi setiap peserta terkait dengan desa binaannya. Pelatihan ini diikuti oleh peserta yang sebelumnya sudah mengikuti first gathering IAAS National Workshop, yaitu oleh perwakilan dari IAAS Local Committee (LC), Komunitas 1000 kebun, Kampung Marketer dan AIESEC Semarang. Turut hadir dalam acara ini Putu Kana Narayan sebagai Vice Director of Partnership, Brigitta Sidharta sebagai National Director of IAAS Indonesia, Endang Rahman Hakim, Partnerships and Social Impact sebagai panelis dari TaniHub dan Yuyun Qomari P sebagai panelis dari Platform Usaha Sosial.

Di era pandemi ini semua pihak berusaha untuk terus bertahan dan membuat inovasi untuk menyelesaikan banyak masalah. Mendukung hal tersebut IAAS Indonesia melalui Agriphoria 2020 mengadakan IAAS National Workshop sebagai bagian dari rangkaian acaranya. IAAS National Workshop yang bertemakan Sociopreneurship on Agro-Products to Deal with New Normal in Rural Communities.

Acara ini dibuka oleh MC Karen Hapuk Agnes Roger, dan dilanjutkan sambutan oleh Brigita Sidharta, Ia menyampaikan bahwa tahun ini Village Concept Project (VCP) menempuh banyak rintangan karena pandemi, namun semuanya tidak pernah berhenti mencari solusi untuk memajukan VCP, Ia juga berterima kasih kepada TaniHub dan PLUS yang mau berkolaborasi bersama IAAS Indonesia dan kepada teman-teman LC yang terus bersemangat memajukan VCP. lalu agenda selanjutnya adalah penjelasan mengenai tujuan diadakannya National Workshop ini. Setiap delegasi memiliki latar belakang berupa komunitas maupun program pemberdayaan masyarakat. Salah satunya adalah Village Community Project (VCP) dimana program ini adalah bentuk pemberdayaan desa yang dimiliki setiap LC. Tujuan diadakannya workshop ini adalah untuk membantu memetakan masalah-masalah yang dihadapi oleh VCP dan diharapkan setelah mengikuti workshop ini dapat menemukan solusi dari masalah-masalah yang dihadapi. Maka dari itu, agenda National Workshop ini menghadirkan dua panelis yang masing-masing membahas Value Based Supply Chains (VBSC) dan Social Business Model Canvas (SBMC).

Pembukaan oleh MC Karen Hapuk Agnes Roger
Sambutan oleh National Director IAAS Indonesia, Brigita Sidharta

Pembahasan Value Based Supply Chains (VBSC) dibawakan dari TaniHub, dengan sapaan dekatnya adalah Mas Hakim. Mas Hakim menjelaskan mengenai tema ini langsung pada pengaplikasian yang dilakukan langsung oleh TaniHub Group. TaniHub Group membagi tiga perusahaannya yang saling bersinergis, yaitu TaniFund dalam rangka memfasilitasi petani untuk mendapatkan pendanaan bagi budidaya pertanian, TaniHub sebagai e-commerce menjual hasil petani lokal, dan Tanisupply untuk distribusi dan suplai produk pertanian.

Ketiga anak dari TaniHub Group ini dilandaskan dari adanya lima urgensi rantai pasok pertanian yang perlu menjadi konsetrasi dan dapat melihat secara khusus masalah yang sebenarnya dihadapi oleh para petani, yaitu sebelum pemanenan dimana diperlukan modal dalam Bertani seperti pembeliaan benih, pupuk dan persiapan sebelum mulai menanam. Lalu, selama proses penanaman, dalam perawatan misalnya. Kemudian, pascapanen yang didalamnya merupakan distribusi dan penyimpanan suplai. Dengan rantai pasok pada distribusi yang dari petani langsung ke pelanggan melewati TaniHub mengurangi disparitas kesenjangan harga ditingkat petani yang selama ini menjadi masalah berlarut, kesenjangan harga ini berkurang 30%-50% dibandingkan melewati cara konvensional. Demi mempertahankan dan meningkatkan nilai selama dalam rantai ini maka perlu mempertahankan kualitas produk dengan dibantu dengan kontrol kualitas dan supply management yang baik. Hal yang TaniHub lakukan adalah membangun infrastruktur dalam tahap distribusi dan penyimpanan agar kualitasnya terjaga dengan baik. Penting sekali mengetahui perlakukan apa yang perlu dilakukan pada produk pertanian, karena produk pertanian merupakan bahan hidup yang sangat mudah mengalami kerusakan. Menanggulangi masalah ini contohnya dalam infrastruktur gudang penyimpanan bahan pertanian menggunakan standar ISO dan beradaptasi dengan cepat saat pandemi, yaitu contactless saat digudang dan saat pengiriman pada pelanggan.

Pengenalan panelis dari TaniHub Grup, Endang Rahman Hakim
Presentasi panelis dari TaniHub, Endang Rahman Hakim

Setelah memaparkan materinya, dibukalah sesi tanya jawab yang sangat antusias dari para peserta, selanjutnya sebagai akhir dari sesi materi satu kalimat penutup dari mas Hakim adalah TaniHub Grup memberikan jawaban atas permasalahan pertanian, dengan secara holistik membantu para petani dan dengan tujuan yang konkrit ini pula dapat cepat beradaptasi pada saat pandemi. Meningkatkan jaringan dengan siapapun dan dimanapun akan semakin melebarkan peluang untuk saling berkolaborasi, dan juga pemuda Indonesia perlu memiliki petani muda sehingga mari berbangga bekerja dibidang pertanian. Selanjutnya pemberian Token of Appreciation oleh Brigita Sidhara untuk Mas Hakim sebagai wujud terima kasih dari IAAS Indonesia. Sesi pertama selesai, untuk merelaksasikan pikiran maka di adakan ice breaking berupa bermain kuis bersama lalu ditutup dengan istirahat.

Pemberian ToA dan Dokumentasi

Sesi kedua adalah materi dari panelis kedua oleh Yuyun Qomari P, dengan sapaan hangatnya adalah Mas Yuyun. Mas Yuyun membawakan materi mengenai Social Business Model Canvas (BMC), sebagai pembuka Mas Yuyun membahas mengenai perbedaan BMC dengan sosial dan tanpa social. Perbedaannya adalah bahwa SBMC merupakan alat untuk mendeskripsikan, merancang, memulai atau mengubah haluan model bisnis sosial, yang orientasinya bukan hanya keuntungan melainkan dampak apa yang bisa diterima oleh target dari SBMC ini, misalkan masyarakat. Dalam memulai ataupun merubah bisnis konvensional menjadi bisnis sosial adalah perlu ada pemetaan yang jelas, shingga SBMC ini memudahkan menemukan ide apa yang dimiliki, lalu mempermudah menjawab pertanyaan bagaimana cara memulainya kemudian melihat kemana akan mengubah haluannya. SBMC ini menjadi saran dalam membangun bisnis karena memiliki visual yang jelas dan sifatnya yang fokus menyelesaikan masalah.

Pengenalan panelis dan presentasi panelis kedua, Yuyun Qomari P dari PLUS

Membuat SBMC yang baik ini perlu dituliskan dengan bahasa yang sederhana, relevan dengan kondisi nyata, dan mudah dipahami oleh penulis maupun orang lain. Elemen penyusun SBMC pun berbeda dengan BMC, letak perbedaannya pada SBMC ditambahkan dua elemen tambahan yaitu mengenai konsumen dan komunitas untuk mengetahui siapakah konsumen dan komunitas yang akan terbantu, lalu elemen kedua adalah dampak sosial apa yang akan dicapai, atau dampak positif apa yang dicita-citakan. Lalu lima elemen lain yang sama dengan BMC adalah nilai unik produk, sumber pendapatan, biaya, sumber daya, dan partners. Pada sesi ini sangat dijelaskan dengan rinci bagaimana cara menentukan setiap elemennya dan diberikan contoh implementasi pada salah satu usaha sosial yang dikelola oleh Platform Usaha Sosial yaitu Gumi Bamboo. Pada akhir presentasi dari panelis ini dibuka kembali sesi tanya jawab, dan disambut dengan antusias oleh para peserta. Setelah sesi tanya jawab berakhir, dilanjutkan dengan sesi workshop yang merupakan praktek langsung penerapan SBMC untuk desa mitra (VCP). Sesi ini berlangsung di break out room dan google jamboard. Setelah selesai berdiskusi dan menyelesaikan SBMC masing-masing, selanjutnya dilakukan sesi presentasi dari peserta mengenai SBMC-nya dan di review oleh panelis yaitu Mas Yuyun apakah SBMC-nya sudah baik atau apakah perlu ditambahkan. Setelah sesi ini dilanjutkan pemberian token of appreciation kepada Mas Yuyun yang diserahkan oleh Putu Kana Narayan selaku Vice Director of Partnership IAAS Indonesia dan diakhiri dengan sesi dokumentasi.

Sesi Workshop

Melangkah ke sesi selanjutnya yaitu, ucapan kesan pesan dari para peserta dan pengumuman tiga LC tebaik selama mengikuti National Workshop ini. Pemenangnya adalah IAAS LC Universitas Padjajaran dengan produk Citrong, lalu Universitas Udayana dengan produk VCO dan Universitas Gadjah Mada dengan produk pupuk organik.

Akhir kalimat, terima kasih banyak atas semua pihak yang terkait dalam acara national workshop ini, semoga semua tujuan untuk terus memajukan VCP dapat berjalan dengan baik dan semakin memicu semangat untuk terus berkembang.

Sesi Foto Bersama

Tentang IAAS Indonesia

IAAS (International Association of Students in Agricultural and Related Sciences) adalah organisasi mahasiswa dibidang pertanian dan ilmu terkait terbesar di dunia yang telah tersebar di 50 negara, termasuk Indonesia yang sudah berada di 10 kota. IAAS Indonesia berupaya untuk menjadikan pertanian “seksi” di mata generasi muda Indonesia dengan membuat proyek, program pertukaran dan kampanye kreatif.

Tentang TaniHub Grup

TaniHub Grup ini merupakan perusahaan dibidang pertanian yang memiliki tiga bidang pendanaan (Tanifund), penjualan e-commerce (TaniHub) dan gudang penyimpanan (Tanisupply). Perusahaan yang berfokus pada bisnis ke bisnis yang bertujuan mendukung petani lokal agar dapat langsung menyalurkan hasil panennya ke berbagai jenis konsumen. 

Tentang Platform Usaha Sosial

Platform Usaha Sosial ini atau disingkat PLUS adalah sebuah platform yang memberikan ruang kolaborasi bagi orang-orang yang ingin menciptakan dampak sosial dan lingkungan yang lebih berkelanjutan melalui bisnis, dengan jasa yang diberikan seperti konsultasi, pelatihan dan pengembangan proyek sosial.

Tentang Komunitas 1000 kebun

Komunitas 1000Kebun merupakan kumpulan para peminat dan praktisi berkebun di Indonesia dengan pendekatan organik. Dengan moto “Organik Itu Tradisi Kita”, komunitas ini percaya bahwa pangan organik bisa menyelamatkan manusia dan planet bumi dari kehancuran dan kepunahan.

Tentang AIESEC Semarang

AIESEC adalah organisasi yang dipimpin pemuda global yang berjuang untuk mencapai kedamaian dan pemenuhan potensi umat manusia dengan mengaktifkan kualitas kepemimpinan pada kaum muda melalui pembelajaran dari pengalaman praktis di lingkungan yang menantang. AIESEC tersebar di 114 negara dan wilayah, termasuk Indonesia. AIESEC di Indonesia, salah satunya adalah AIESEC Semarang.

Tentang Kampung Marketer

Kampung marketer adalah sebuah wirausaha sosial yang bergerak dalam pemberdayaan pemuda desa dengan mendidik dan melatih mereka dengan kurikulum e-commerce terkini, sehingga mampu menghasilkan sumber daya manusia yang terampil dibidang e-commerce. Selanjutnya Kampung marketer menghubungkan pemuda desa yang telah terampil dengan ratusan bisnis online di Indonesia untuk diberdayakan.

Kontak :
Inti Putri
Public Relations of IAAS Summit 2020
+62 812 8797 3915
intiputri@gmail.com



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *