fbpx

Limbah Batang Pepaya untuk Menunjang Potensi Pangan Lokal

Minapadi to Increase Farmers’ Income
June 20, 2016
How Would You Define A Processed Food? (ENG)
June 27, 2016
Show all

Limbah Batang Pepaya untuk Menunjang Potensi Pangan Lokal

Inovasi Limbah Batang Pepaya Dalam Pembuatan Jajanan Kering Untuk Menunjang Potensi Pangan Lokal Narmada Melalui Program BREC (Berugaq Education Center ) Based Community

(Study kasus : Desa Narmada, kabupaten Lombok Barat , NTB)

Oleh: Rizal Iswandi & Azizatul Lutfiah (IAAS LC UNRAM)

Editor: Gea Anggun

Diberlakukannya perdagangan bebas di kawasan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada awal tahun 2016 ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia untuk bersiap dalam menghadapi gempuran hasil produksi pertanian dari negara-negara lain. Faktanya, hasil produksi pertanian yang diproduksi oleh negara lain memiliki potensi harga jual lebih murah serta kualitas produk yang jauh lebih baik. Dalam kondisi ini, Indonesia harus mampu menjaga ketahanan dan kemandirian hasil produksi pertanian terutama pangan, sehingga dapat bersaing dalam memenuhi kebutuhan makanan masyarakat lokal hingga dunia. Menurut UU pangan No 18, ketahanan dan kemandirian pangan dapat dicapai dengan pengembangan potensi dan penganekaragaman pangan lokal.

Indonesia memiliki produk bahan pangan lokal yang sangat berlimpah, namun inovasi yang dilakukan sangat sedikit dan jumlahnya masih terbatas, salah satunya dalam pemanfaatan batang tanaman pepaya sebagai produk olahan. Pepaya merupakan salah satu jenis tanaman lokal yang dapat hidup di sepanjang kepulauan Indonesia. Batang tanaman pepaya pada umumnya tidak digunakan karena bagian luar batang pepaya menyerupai bentuk batang tanaman berkayu, sehingga masyarakat kurang tertarik untuk memanfaatkan batang tanaman ini untuk diolah menjadi produk yang bernilai tinggi. Padahal, batang tanaman pepaya mengandung enzim papain, papayotin, pepayachin, protein, karpusittanin, enzim protality, vitamin A dan C, alkaloida serta glukosida yang baik bagi kesehatan.

Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diketahui bahwa potensi pengembangan batang pepaya sebagai salah satu sumber pangan baru sangat besar, salah satunya dengan mengolah batang pepaya menjadi produk setengah jadi yaitu tepung. Adanya pengolahan tepung batang pepaya merupakan salah satu inovasi makanan baru dalam rangka peningkatan diversifikasi pangan lokal di Indonesia. Tepung batang pepaya dapat digunakan sebagai bahan utama pengganti tepung ketan dalam pembuatan kue sagon karena batang pepaya memiliki tekstur yang berserat. Maka dari itu, pengolahan batang tanaman pepaya dalam bentuk tepung diyakini mampu bersaing di era MEA, mengingat tanaman pepaya merupakan suatu komoditi tanaman yang tumbuh sepanjang musim sehingga mudah didapatkan. Selain itu pengolahan berbagai jajanan kering dengan inovasi rasa dan bentuk bervariasi yang dapat bertahan lama akan menjadi daya tarik tersediri di era MEA ini, sehingga bisa dipasarkan hingga ke kancah internasional.

Upaya pelestarian potensi pangan lokal sebagai wujud persaingan di era MEA tentunya harus didasarkan pada dukungan masyarakat yang kuat dan keterlibatan masyarakat lokal. Dalam hal ini, diperlukan suatu wadah untuk membangun sumber daya masyarakat dikawasan Narmada. Wadah ini dinamakan BREC (Berugaq Education Center), yakni sebuah wadah pendidikan alternatif (sekolah alam) bersama yang didukung oleh berbagai pihak seperti pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, serta masyarakat yang bersinergi dalam menciptakan rantai distribusi pangan yang baik dan kompetitif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *