fbpx
Edible Film sebagai Pengganti Kemasan Plastik Makanan dan Minuman
August 1, 2021
Our Diet, Wolves in Sheep’s Clothing Climate Change
September 3, 2021

Cegah Krisis Iklim dengan Pola Makan Bijak

Ilustrasi sayur dan buah-buahan (RONEDYA/Shuttershock)

Tahukan Anda bahwa perubahan iklim tidak hanya disebabkan oleh polusi yang  berasal dari industri dan kendaraan bermotor?. Kegiatan manusia dalam tujuan pemenuhan kebutuhan hidup maupun kesenangan dirinya seringkali membutuhkan energi yang berasal dari alam. Energi tersebut dapat menimbulkan sampah yang biasa disebut dengan emisi, dimana dapat membahayakan lingkungan sekitar manusia bahkan dapat mengancam kelangsungan hidupnya. Rata-rata produksi emisi global di Indonesia per kapita tahun 2017 sekitar 4,8 ton setara CO2. Produksi emisi tersebut salah satunya dapat disebabkan oleh pola makan terkhusus makanan protein hewani. Hal tersebut hampir 80% dari 51 miliar ton setahun terkait dengan pemenuhan pangan. Membatasi peningkatan konsumsi makan protein hewani seperti daging diduga dapat mengendalikan pemanasan global. Pasalnya produksi daging membutuhkan lahan 20 kali lebih besar dan menghasilkan emisi 20 kali lebih banyak dibandingkan dengan produksi kacang-kacangan, untuk tiap gram protein. Sehingga upaya perubahan pola makan dapat mencapai target perubahan iklim.

Berbagai kerusakan alam yang sudah terjadi di beberapa bagian di bumi memicu terjadinya krisis iklim. Ketika terjadi efek gas rumah kaca yang membuat atmosfer menebal dan membuat udara panas terisolasi di dalam atmosfer memicu pemanasan global atau kenaikan suhu rata-rata bumi yang membuat perubahan pada iklim, hal tersebut berdampak fatal terhadap kehidupan oleh orang-orang di seluruh dunia sehingga disebut krisis iklim. Saat ini ancaman krisis iklim sudah menjadi perhatian berbagai kalangan masyarakat di seluruh dunia. Menurut United  States  Global  Climate Change Programme, perubahan iklim ditandai dengan kerusakan pada pertanian, sumber daya air, kesehatan manusia, vegetasi pada tanah, serta menipisnya lapisan ozon yang disebabkan oleh fenomena cuaca. Untuk dapat didefinisikan sebagai perubahan iklim hal tersebut harus terjadi secara signifikan dalam rentang waktu yang lama seperti satu dekade atau lebih.

Meski terkesan mirip, krisis iklim, perubahan iklim, dan pemanasan global memiliki titik fokus pembahasan yang sedikit berbeda. Pemanasan global merujuk kepada fenomena alam yang membuat suhu bumi naik, sedangkan perubahan iklim merupakan fenomena dan dampak yang terjadi oleh iklim kepada kehidupan di bumi. Dari perubahan iklim tersebut kembali berkembang menjadi permasalahan yang kompleks karena kerusakan iklim yang sangat serius sehingga termanifestasi sebagai krisis iklim, darurat iklim, atau climate emergency.

Beberapa dampak yang diakibatkan oleh krisis iklim antara lain :

perubahan iklim (majalahcsr.id)
  1. Peningkatan atau Penurunan Curah Hujan
    Perubahan iklim menyebabkan presipitasi yang tidak merata sehingga terjadi kenaikan curah hujan di daerah satu dan penurunan curah hujan di daerah lainnya. Hal ini, berdampak pada terjadinya banjir dan kekeringan di sejumlah daerah.
  2. Kenaikan Permukaan Laut
    Cairnya gletser dan gunung es di daerah kutub menyebabkan permukaan laut mengalami kenaikan sehingga terjadi banjir di beberapa wilayah pesisir.
  3. Kebakaran Hutan
    Perubahan iklim berpengaruh terhadap jumlah oksigen yang ada, tingkat kekeringan bahan bakar permukaan, dan kecepatan penyebaran api sehingga menyebabkan kebakaran hutan. Kebakaran hutan juga dapat menyebabkan kematian hingga kepunahan flora serta fauna.
  4. Mempengaruhi Pertanian dan Ketahanan Pangan
    Perubahan iklim berpengaruh terhadap ketahanan pangan karena pergeseran musim akan mempengaruhi pola dan waktu tanam tanaman semusim yang umumnya merupakan tanaman pangan. Dampaknya ialah terjadi kegagalan panen, penurunan produksi dan produktivitas pertanian, kerusakan lahan pertanian, dan peningkatan intensitas Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk memperlambat terjadinya kemungkinan terburuk yang disebabkan krisis iklim pada bumi kita. Cara pertama yang bisa dilakukan adalah membiasakan mengonsumsi lebih banyak sayur-sayuran serta buah-buahan dibandingkan makanan hewani. Hal ini dikarenakan kondisi pada praktik peternakan menghasilkan beban emisi gas rumah kaca antara lain karbon dioksida (CO2), gas metana (CH4), dan nitrogen oksida (N2O) ke atmosfer, baik pada proses fermentasi enteric maupun pengelolaan kotoran ternak. Menurut laporan “Fourth assessment report (AR4)” dalam IPCC (2006) dijelaskan bahwa gas metana memiliki potensi untuk pemanasan global (Global Warming Potential/GWP) sebesar 25 kali emisi gas CO2 ekuivalen. Cara lainnya ialah dengan mengonsumsi bahan makanan nabati dan disarankan mengonsumsi dengan berbagai varian serta menyesuaikan bahan makanan yang sedang musim pada daerah sekitar kita. World Wide Fund for Nature (WWF) mengatakan bahwa dengan memakan makanan yang sedang musim secara tidak langsung juga membantu produsen lokal. Weber dan Matthews (2008) memperkirakan bahwa dengan beralih ke pola makan nabati hanya 1 hari per minggu dari daging merah dan produk susu, sebuah rumah tangga dapat mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) mereka yang setara dengan mengurangi mengemudi sejauh 1160 mil per tahun.

Selain itu pada saat ini sudah banyak dikembangkan banyak macam daging alternatif untuk mengurangi emisi antara lain dengan adanya daging tiruan yang menggunakan bahan-bahan nabati untuk menggantikan daging asli dalam rangka mengurangi emisi akibat pengelolaan hewan ternak, serta adanya produk Cultivated Meat (CM) yang bisa juga disebut daging in-vitro yang dibudidayakan di laboratorium dan daging akan tumbuh langsung dari sel tanpa hewan. Cultivated meat dapat menjadi cara yang efektif untuk mengurangi perubahan iklim serta meningkatkan kesehatan masyarakat dan kesejahteraan hewan, sekaligus menawarkan potensi komersial yang sangat tinggi. Namun, reaksi positif konsumen terhadap cultivated meat dan penerimaannya di pasar tidak dapat diasumsikan.

Kebun sayur mini (Shutterstock)

Solusi selanjutnya menanam sendiri bahan makanan yang akan dikonsumsi, mengapa begitu? Saat menanam tanaman pada lahan sendiri dan dikelola sendiri akan memperkecil jejak karbon yang akan muncul akibat transportasi seperti dari produsen ke konsumen. Selanjutnya cara lain seperti mengurangi limbah makanan juga perlu dilakukan karena telah menunjukkan bahwa limbah makanan berkontribusi terhadap percepatan kerusakan lingkungan. Pertama dampak yang relatif kecil dari dekomposisi makanan yang terbuang setelah dibuang ke tempat pembuangan sampah, dan potensi dampak yang jauh lebih signifikan dari emisi yang terkait dengan produksinya, pemrosesan, transportasi, dan ritel. Kedua, limbah makanan dapat seiring waktu menumpuk sehingga mengurangi ketersediaan lahan dan menghilangkan fungsi lahan hijau yang seharusnya bisa ditanam untuk keperluan pangan maupun lingkungan. Secara garis besar kita sebagai masyarakat yang bertanggung jawab seharusnya bisa berpikir dari sisi lain serta visioner terhadap dampak dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Mulai detik ini mari membiasakan diri dengan membeli atau mengambil makanan secukupnya saja dan mengupayakan agar tidak menyia-nyiakan makanan. Pada akhirnya terdapat banyak jalan dalam mencegah krisis iklim yang akan terjadi di kemudian hari, namun semuanya akan kembali ke pribadi masing-masing dan kesadaran diri untuk melakukan hal tersebut demi melindungi bumi untuk anak cucu kita di kemudian hari.

Written By: Alfika Rizka Hapsari, Rossinta Ratna K, Azizah Zahro Ihsaniah, Bintang Muhammad Hafizh Dzikri –IAAS LC UNS

Referensi:

Amalia, Bunga Irada dan Agung Sugiri. 2014. Ketersediaan air bersih dan perubahan iklim: studi krisis air di kedungkarang kabupaten demak. Jurnal Teknik PWK, 3 (2): 295 – 302.

Beaudoin, A., Rabl, V., Rupanagudi, R., & Sheikh, N. 2018. Reducing the Consumer Rejection of Cultivated Meat. London: London School of Economics and Political Science.

Garnett, T. 2008. Cooking Up a Storm: Food, Greenhouse Gas Emissions and Our Changing Climate. Surrey. UK: Food Climate Research Network, Center for Environmental Strategy.

Hosang, Peter Rene, J. Tatuh, dan Johannes E. X. Rogi. 2012. Analisis dampak perubahan iklim terhadap produksi beras provinsi sulawesi utara tahun 2013 – 2030. Eugenia, 18 (3): 249 – 256.

IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). 2006. Emission from livestock and manure management. Guidelines for national greenhouse gas inventories. Chapter 10. p. 72-82.

Mustangin, M. 2017. Perubahan iklim dan aksi menghadapi dampaknya: ditinjau dari peran serta perempuan desa pagerwangi. Jurnal Pendidikan Dan Pemberdayaan Masyarakat, 4(1): 80–89.

Okoli, J. N., & Ifeakor, A. C. 2014. An overview of climate change and food security: adaptation strategies and mitigation measures in nigeria. Journal of Education and Practice, 32(5): 13–19.

Sudarma, I Made dan Abd. Rahman As-syakur. 2018. Dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian di provinsi bali. Jurnal Sosial-Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, 12 (1): 87 – 98.

Syaufina, Lailan dan Dinda Aisyah Fadhillah Hafni. 2018. Variabilitas iklim dan kejadian kebakaran hutan dan lahan gambut di kabupaten bengkalis, provinsi riau. Jurnal Silvikultur Tropika, 9 (1): 60 – 68.

Weber, C. L. and H. S. Matthews. 2008. Food-miles and the relative climate impacts of food choices in the united states. Environmental Science & Technology Vol 42: 3508–3513

IAASIndonesia
IAASIndonesia
International Association of Students in Agricultural and Related Sciences (IAAS) is the World Biggest Student Association in The Field of Agriculture and Related Sciences. IAAS was founded in 1957 and started with only 8 member countries.For the last 60 years, IAAS has grown into a big organization with 53 member countries and more than 10,000 active members. IAAS Indonesia was found by Mr. Arif Satria on December 29th 1992. By the year of 2020, IAAS Indonesia has 11 Local Committees across the country with more than 1200 active members.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *