fbpx
Website Class 2021
May 29, 2021
Cegah Krisis Iklim dengan Pola Makan Bijak
August 18, 2021

Edible Film sebagai Pengganti Kemasan Plastik Makanan dan Minuman

(sumber: www.kolabtree.com)

Pemakaian plastik sebagai kemasan makanan dan minuman tidak dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Plastik merupakan bahan polimer sintetis yang murah dan mudah didapat serta sangat praktis dalam penggunaannya. Namun demikian, dalam proses produksi plastik berbagai zat yang secara umum disebut plasticizers ditambahkan untuk mendapatkan karakter plastik yang diinginkan seperti bening, kuat, rentang toleransi suhu yang lebar, dan fleksibel. Bahan yang tergolong plasticizers ini diantaranya adalah berbagai senyawa phthalate yang dipakai pada pembuatan plastik jenis polyvinyl chloride (PVC). Selain itu, bisphenol-A (BPA) yang digunakan untuk pembuatan plastik jenis polikarbonat juga telah diidentifikasi dapat terlepas dari plastik dan mencemari makanan dan minuman.

Plastik sebagai kemasan makanan dan minuman merupakan sumber utama paparan BPA dan phthalate pada populasi umum. Selain makanan dan minuman kemasan dari pabrik, pemakaian plastik sehari-hari dalam proses pengolahan dan sebagai wadah makanan juga berperan dalam paparan BPA dan phthalate. Sebagai contoh, maraknya plastik impor berharga murah dalam bentuk perkakas dapur seperti papan iris, sendok, piring, cangkir, panci, teko, dan lain sebagainya, dengan kualitas yang diragukan dan komposisi kimia yang tidak bisa diverifikasi. Di samping itu, adanya kebiasaan masyarakat menggunakan plastik sebagai wadah gorengan dan cetakan makanan (seperti lontong dan kue-kue) yang diolah dengan suhu tinggi.

Bahan kimia phthalate dan BPA dapat menyebabkan masalah kesehatan apabila masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman yang dipaparinya. Berbagai penelitian telah menghubungkan Bisphenol-A (BPA) dengan beberapa dampak terhadap kesehatan, seperti meningkatkan kadar prostat, penurunan kandungan hormon testoteron, memungkinkan terjadinya kanker payudara, sel prostat menjadi lebih sensitif terhadap hormon dan kanker, dan membuat seseorang menjadi hiperaktif. Selain itu, plastik BPA juga berbahaya bagi bayi karena terbukti dapat mempengaruhi berat badan lahir, perkembangan hormonal, perilaku, dan resiko kanker di kemudian hari. Sedangkan salah satu jenis phthalate yaitu dibutil phthalate (DBP) dilaporkan dapat mengganggu sistem endokrin. Oleh karena itu, salah satu cara untuk mengurangi kemasan plastik yang berdampak buruk bagi kesehatan yakni beralih dengan menggunakan edible film sebagai pengganti kemasan plastik.

Edible film merupakan lapisan tipis yang berfungsi sebagai pengemas/pelapis makanan sekaligus dapat dimakan bersama dengan produk yang dikemas. Selain berfungsi untuk memperpanjang masa simpan, edible film juga dapat digunakan sebagai pembawa senyawa lain, diantaranya vitamin, mineral, antioksidan, antimikroba, pengawet, bahan untuk memperbaiki rasa, dan warna produk yang dikemas. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat edible film yaitu yang memiliki kemampuan untuk membentuk lapisan tipis (film forming ability), relatif murah, mudah dirombak secara biologis (biodegradable), dan teknologi pembuatannya sederhana. Bahan yang memiliki karakter tersebut antara lain adalah pati singkong, jagung, kitosan (kulit udang), dan karaginan (rumput laut).

Olahan edible film dapat digunakan untuk pengemasan sosis, daging, buah-buahan, serta sayuran segar. Selain itu, edible film juga dapat digunakan sebagai penyegar mulut, pemberi gambar/logo pada kue, masker wajah, obat yang cepat larut, serta pupuk yang dapat larut secara bertahap. Hasil penelitian menunjukkan, penambahan minyak atsiri jahe pada komponen pembuatan edible film dapat meningkatkan daya tahan dan kualitas bahan pangan karena jahe mengandung bahan antimikroba. Penambahan ekstrak manggis pada formula edible film juga dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau mulut. Edible film yang mengandung antimikroba juga dapat memperpanjang masa simpan paprika, irisan apel, pepaya, durian, nangka, salak, melon, dan olahan daging.

(sumber: www.gp-award.com)

Keunggulan dan kelemahan edible film tergantung pada bahan pembuatannya. Edible film yang terbuat dari karbohidrat, protein, dan lipid memiliki banyak keunggulan seperti mudah didaur ulang (biodegradable), dapat dikonsumsi langsung, biocompatible, penampilan yang estetis, mencegah dehidrasi, memperbaiki rasa serta tekstur, mengurangi tingkat kebusukan, dan kemampuannya sebagai penghalang (barrier) terhadap oksigen, tekanan fisik selama transportasi serta penyimpanan. Selain itu, edible film juga memiliki kelemahan, film yang terbuat dari pati misalnya, sangat mudah rusak/sobek karena resistensinya yang rendah terhadap air, serta mempunyai sifat penghalang yang rendah terhadap uap air karena sifat hidrofilik dari pati. Sifat mekanik edible film dari pati juga kurang baik karena mempunyai elastisitas yang rendah. Untuk meningkatkan karakteristiknya, biasanya pati dicampur dengan bahan tahan air seperti kitosan.

(sumber: www.instagram.com/evowareworld)

Written By: Alifa Puti Rahmadanti, Arshy Elvyana, Zsarytha Maulia Timur Dewi –IAAS LC UNRAM

Referensi:

Anggarkasih, M. A., dkk. (2018). Analisi Kandungan Di-N-Butil Ptalat (DBP) pada Kemasan Kertas Daur Ulang serta Migrasinya ke dalam Simulan Pangan. Jurnal Teknologi Industri Pertanian, 28 (2): 171 – 179.

BALITKABI, 2016. Pemanfaatan Pati Umbi-umbian sebagai Bahan Pembuat Edible Film. Diakses dari: https://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/infotek/pemanfaatan-pati-umbi-umbian-sebagai-bahan-pembuat-edible-film

Hijriawati, M., Ellin F. (2016). Review: Edible Film Antimikroba. Jurnal Farmaka, 14 (1): 8 – 16.

Ilmiawati, C., dkk. (2017). Edukasi Pemakaian Plastik Sebagai Kemasan Makanan dan Minuman Serta Risikonya Terhadap Kesehatan pada Komunitas di Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Padang. Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat, 1 (1): 20 – 28.

Karuniastuti, N. Bahaya Plastik Terhadap Kesehatan dan Lingkungan. Swara Patra, vol.3, no.1, Dec, 2013.

     Winarti, C., dkk. (2012). Teknologi Produksi dan Aplikasi Pengemas Edible Antimikroba Berbasis Pati. Jurnal Litbang Pertanian, 31 (3): 85 – 93.

IAASIndonesia
IAASIndonesia
International Association of Students in Agricultural and Related Sciences (IAAS) is the World Biggest Student Association in The Field of Agriculture and Related Sciences. IAAS was founded in 1957 and started with only 8 member countries.For the last 60 years, IAAS has grown into a big organization with 53 member countries and more than 10,000 active members. IAAS Indonesia was found by Mr. Arif Satria on December 29th 1992. By the year of 2020, IAAS Indonesia has 11 Local Committees across the country with more than 1200 active members.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *