fbpx

Pariwisata: Sinergi Pengembangan Wisata Kuliner dan Agrowisata

Agritalk: Understanding Recirculating Aquaculture System
June 18, 2017
Agricultural Insurance to Ease Agricultural Business
July 19, 2017

Pariwisata: Sinergi Pengembangan Wisata Kuliner dan Agrowisata

Ditulis oleh Elifas Omega Yusufadisyukur

Mahasiswa Pascasarjana Institut Pertanian Bogor

 

Trend berwisata berkembang seiring semakin banyaknya informasi yang ditawarkan destinasi wisata serta promosi dari biro travel dengan paket wisata yang menarik. Jumlah wisman yang datang berkunjung ke Indonesia tumbuh lebih dari 30 persen dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan data BPS, jumlah wisman yang tercatat masuk ke Indonesia mencapai lebih dari 9 juta orang (2014), mayoritas berasal dari Asia sehingga target 20 juta wisatawan di tahun 2019 bukan isapan jempol semata.

Pariwisata telah ditetapkan menjadi sektor prioritas pembangunan nasional selain infrastruktur, pangan, energi dan maritime. Sumbangsih sebesar USD 1 juta dan menghasilkan PDB USD 1,7 juta atau 170%. Jika ditarik ke presentase pertumbuhan penerimaan devisa, pariwisata bahkan memperlihatkan pertumbuhan yang paling menggembirakan. Presentase pertumbuhannya paling tinggi, yakni menembus 13%. jauh lebih tinggi daripada industri agrikultur, manufaktur otomotif, dan pertambangan sehingga dapat diprediksi sebagai sector andalan Indonesia. Untuk Indonesia, pariwisata sebagai penyumbang PDB, devisa, dan lapangan kerja 9,8 juta lapangan pekerjaan atau sebesar 8,4% secara nasional dan menempati urutan ke-4 dari seluruh sektor industri yang paling mudah dan murah. Bila dilihat asal negara, wisman dari RRC pertumbuhannya paling tinggi (97,45 persen) dibanding dari negara-negara lain. Rata-rata lama tinggal wisman adalah 7,66 hari (2014). Pengeluaran rata-rata wisman per kunjungan di Indonesia (2014) sebesar 1.183,43 dollar AS, sebagian besar untuk akomodasi dan makanan-minuman (64,15 persen). Semakin lama tinggal dan semakin banyak wisatawan membelanjakan uangnya, semakin bergerak perekonomian di daerah yang dikunjungi.

Berdasarkan hal tersebut, pariwisata memang sektor yang paling menarik untuk dijadikan core business. Di berbagai negara, pariwisata tetap jadi primadona. Meskipun krisis global terjadi beberapa kali, jumlah perjalanan wisatawan internasional tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif. Dari 25 juta (1950), 278 juta (1980), 528 juta (1995), 1,14 miliar (2014), hingga mencapai 1,18 miliar (2015). Selain itu, efek domino dari pariwisata juga terasa dahsyat dan sangat signifikan dalam perekonomian yaitu jika dikaitkan dengan industry pangan (wisata kuliner) dan industry pertanian (agrowisata).

Wisata Kuliner

Pada awalnya makanan hanya menjadi salah satu pelengkap kegiatan wisata. Namun kemudian berkembang menjadai salah satu bentuk wisata khusus yang disebut dengan istilah wisata kuliner mengingat makanan juga diakui sebagai ekspresif identitas dan budaya.  Ada beberapa bentuk/varian wisata kuliner yaitu Rural/urban tourism yaitu kegiatan berkunjung di restoran/tempat makan saat berwisata, festival makanan lokal karena berbeda, sebagai wujud adanya kebutuhan makan minum selama berwisata. Culinary tourism yaitu mengunjungi pasar tradisional, restoran lokal, festival makanan saat datang ke destinasi wisata. Gastronomi tourism/cuisine tourism/gourmet tourism yaitu bepergian ke destinasi khusus untuk menikmati makanan lokal, festival makanan, atau mempelajari makanan lokal secara serius.

Seiring dengan perkembangan pariwisata, usaha di bidang makanan-minuman juga berkembang pesat. Pada Triwulan II -2016 misalnya, dibandingkan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya pertumbuhan industri makanan dan minuman mencapai 8, 22 persen. Pada periode yang sama, kontribusi industri makanan-minuman terhadap PDB sektor industri manufaktur non-migas juga tumbuh 33, 27 persen. Pada tahun 2013 terdapat 2.269 usaha restoran/rumah makan di Indonesia berskala menengah-besar, 27,91 persen di antaranya tidak berbadan hukum, dan 72,88 persen dari jumlah tersebut merupakan restoran non-waralaba. Rata-rata pendapatan per tahun restoran menengah-besar itu mencapai lebih dari 4 miliar rupiah, umumnya (72, 74 persen) berpendapatan antara 1 sampai kurang 5 miliar rupiah per tahun. Data tersebut belum termasuk usaha katering, yang saat ini tidak hanya terdapat di kota besar tetapi juga di desa. Di luar itu, terbanyak adalah usaha makanan-minuman skala Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). UMKM selama ini bahkan menyumbang sekitar 60 persen PDB.

Hingga Juni 2016 di Indonesia tercatat 60 kasus keracunan makanan dengan jumlah korban 4.282 orang, 32 orang di antaranya meninggal dunia. Jumlah korban keracunan setengah tahun ini hampir menyamai jumlah korban keracunan tahun 2015 (5761 korban, 31 orang di antaranya meninggal). Menurut hasil pemetaan kasus keracunan yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Bali masuk lima besar kasus keracunan yang terjadi di Indonesia selama 2010-2015. Padahal Bali merupakan daya tarik utama bagi wisman yang berkunjung ke Indonesia. Kenyataan tersebut merefleksikan sistem keamanan pangan di Indonesia belum sepenuhnya terjaga. Untuk menjamin keamanan makanan, pemerintah perlu lebih gencar dan ketat mengawasi setiap tahap pengadaannya, sekaligus melakukan pembelajaran tentang keamanan pangan.

Banyak negara mulai menyadari potensi kuliner bagi kesejahteraan masyarakat dan pengembangan destinasi wisata. Skotlandia dan Wales misalnya dengan inisiatif kampanye pemasaran A Taste of Scotland, Portugal di Alto Minho dengan mencetak buku resep untuk memberikan pengunjung kesempatan untuk membuat memori tentang makanan yang dinikmati di wilayah itu menjadi abadi dan strategi branding yang dilakukan Thailand dengan slogan “Kitchen of the World”. Indonesia mengarah kesitu dengan promosi ke luar negeri dan di dalam negeri untuk meningkatkan rasa cinta dan minat masyarakat terhadap kuliner tradisional nusantara. Kuliner Indonesia terbukti memiliki daya tarik yang besar, apalagi dengan dinobatkannya rendang sebagai salah satu makanan terlezat di dunia. Hal ini membuktikan bahwa kuliner Indonesia disukai serta siap menjadi salah satu faktor penggerak ekonomi masyarakat, khususnya dalam hal bisnis skala kecil. Pada 2013 sektor kuliner memberikan kontribusi nilai tambah bruto sebesar Rp208,6 triliun dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 4,5 persen dari tahun 2012-2013. Sektor kuliner juga menyerap tenaga kerja sebesar 3,7 juta orang dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 0,26 persen. Unit usaha yang tercipta dari sektor kuliner tercatat sebesar 3,0 juta dengan rata-rata pertumbuhan 0,9 persen. Oleh karena itu wisata kuliner diyakini mampu menjadi unsur utama yang berfungsi sebagai perekat terhadap rangkaian berwisata, mengingat kepariwisataan merupakan sektor yang multi-atribut dan prospektif sebagai pintu gerbang sekaligus citra pariwisata Indonesia.

Agrowisata

Agrowisata hadir untuk melengkapi wisata kuliner dalam memperkuat kinerja sector pariwisata Indonesia dengan menawarkan penyegaran tubuh, menghilangkan kejenuhan, ajakan teman atau keluarga, dan mencari hiburan atau bermain. Pemanfaatan aktivitas pertanian seperti membajak, menanam padi dan memanen sebagai objek wisata, daya tarik wisata dan atraksi wisata maupun pemanfaatan hasil-hasil pertanian seperti beras, sayur dan buah untuk keperluan industri pariwisata seperti hotel dan restoran di suatu daerah tujuan wisata. Kalangan industri pariwisata mengakui keberadaan pertanian berbasis kearifan lokal diperlukan untuk mendukung pariwisata berkelanjutan. Praktisi pertanian tidak hanya sekadar memikirkan kuantitas produksi, tapi perlu memperhatikan aspek peningkatkan nilai tambah dan tren konsumen global. Pengembangan pertanian perlu disinergikan dengan unsur budaya dan industri pariwisata agar bisa memberi nilai tambah kepada petani dan mendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan.

 

Sinergi pertanian dan pariwisata yang baik di satu sisi dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, tapi di sisi lain tidak destruktif terhadap alam. Namun banyak faktor yang berkontribusi terhadap kegagalan pengelolaan agrowisata yaitu ketidakjelasan manajemen pengelolaan merupakan faktor utama. Objek agrowisata ini tidak dikelola dengan baik mulai dari penataan areal yang dijadikan objek, operasional kegiatan tour, dan sumber daya manusia. Faktor lain adalah pemasaran. Perlu adanya komitmen dari seluruh stakeholder pariwisata untuk bersama-sama menerapkan kosep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yaitu keberlanjutan sumber daya alam, sosial-budaya, dan pemberian manfaat ekonomi kepada masyarakat local karena menurut BPS jumlah rumah tangga petani turun sebesar 5,04 juta orang, yaitu dari 31,17 juta orang pada 2003 menjadi 26,13 juta orang pada 2013. Rata-rata penurunannya sebesar 1,75 persen per tahun selain itu telah terjadi penurunan minat penduduk usia produktiv bekerja di sektor pertanian. Pada tahun 2004, data menyebutkan ada 40,61 juta orang berusia 15 tahun ke atas yang bekerja di sektor pertanian atau 43,33 persen dari total penduduk Indonesia. Namun pada 2013, jumlah penduduk usia produktiv yang bekerja di sektor pertanian itu telah menyusut menjadi 39,96 juta orang atau 35,05 persen. Penurunan ini karena ada peralihan minat, penduduk usia produktif itu lebih tertarik untuk bekerja di sektor perekonomian yang lain seperti sektor industri, perdagangan, makanan, dan jasa.

Pengembangan agrowisata memiliki sisi positif dalam menjaga kelestarian lingkungan karena daya tarik agrowisata adalah keaslian, keunikan, kenyamanan, dan keindahan alam. Oleh sebab itu, faktor kualitas lingkungan menjadi modal penting yang harus disediakan, terutama pada wilayah-wilayah yang dimanfaatkan untuk dijelajahi para wisatawan. Agrowisata pun dapat meningkatkan pendapatan petani dan masyarakat sekitar karena wisatawan yang berkunjung akan menjadi konsumen produk pertanian yang dihasilkan, sehingga pemasaran hasil menjadi lebih efisien.

Perbaikan sektor Pariwisata

Dari sisi kebutuhan pariwisata, pendidikan dan pelatihan harus dilakukan untuk melakukan alih teknologi, menghadapi persaingan demi terwujudnya prinsip pariwisata berkelanjutan. Selain itu perlu adanya promosi merupakan kesatuan kegiatan yang meliputi: memperkenalkan, menyosialisasikan, dan mengampanyekan. Produk diperkenalkan; peraturan disosialisasikan; prinsip-prinsip keberlanjutan dan nilai-nilai lokal dikampanyekan. Promosi pariwisata berkelanjutan bertujuan meningkatkan kesadaran stakeholder. Kampanye Visit Indonesia, Wonderful Indonesia dapat diperkuat dengan informasi terkait mengenai wisata kuliner dan agrowisata sehingga menjadi kesatuan dengan pariwisata saling saling menguatkan satu dengan lainnya.

Koordinasi antar instansi terkait juga perlu diperbaiki agar bergeraknya kinerja ekonomi dapat lebih sinergis dalam memajukan industri pariwisata dan industri kreatif, misalnya peranan kementerian/departemen, baik yang langsung maupun tidak langsung. Contohnya, Kemeneterian Pariwisata dapat berkordinasi dengan Kementerian Pertanian mengenai program unggulan yang dapat disinergikan selain itu perlu adanya dukungan dari Kementerian Perhubungan dalam mengeluarkan berbagai kebijakan yang erat hubungannya dengan penerbangan atau Kementerian Pekerjaan Umum dalam membangun dan memelihara berbagai sarana dan prasarana, seperti jalan dan sarana umum lainnya. Demikian pula dengan kementerian lainnya, khususnya Kementerian Perdaganan dan Kementerian Koperasi dan Usaha Menengah dan Kecil dalam pelatihan ataupun ruang untuk pameran maupun pengembangan inovasi kuliner dan menghasilkan produk makanan yang berdaya saing. Kendati memang instansi yang berada di pusat tidak langsung menyentuh para konsumen, akan tetapi koordinasinya dengan berbagai jajaran aparat di bawahnya dalam ranah kebijakan tentang adanya sentra-sentra perdagangan hasil industri pangan dan pertanian sangat berpengaruh pada pengembangan secara berkelanjutan.

IAASIndonesia
IAASIndonesia
International Association of Students in Agricultural and Related Sciences (IAAS) is the World Biggest Student Association in The Field of Agriculture and Related Sciences. IAAS was founded in 1957 and started with only 8 member countries.For the last 60 years, IAAS has grown into a big organization with 53 member countries and more than 10,000 active members. IAAS Indonesia was found by Mr. Arif Satria on December 29th 1992. By the year of 2020, IAAS Indonesia has 11 Local Committees across the country with more than 1200 active members.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *